Selasa, 23 April 2013

makalah akhlak tasawuf "TAREKAT"



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Untuk mendekatkan diri pada tuhan maka harus menempuh jalan ikhtiar,salahsatu jalan ihtiar yaitu dengan mendalami lebih jauh ilmu tasawuf ,untuk mengetahui sesuatu maka pasti ada ilmunya,banyak dikalangan orang awam awam yang kurang mengetahui tentang ilmu mengenal tuhan (Tarekat). pengertian tentang tarekat yaitu,Tariqah adalah khazanah kerohanian (esoterisme), dalam Islam dan sebagai salah satu pusaka keagamaan yang terpenting. Karena dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum muslimin serta memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembinaan mental beragama masyarakat.Masuknya tarekat ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam ketika wilayah Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan melalui perdagangan dan kegiatan dakwah. Sumber-sumber Cina menyebutkan ada pembangunan pemukiman Arab dan boleh jadi pemukiman Muslim di pesisir barat Sumatera pada 54 H/674 M. Wilayah ini merupakan rute perdagangan penting Arab dan Cina, serta pelabuhan strategis bagi pedagang Arab, India dan Persia.

1.2.       Permasalahan
   Berangkat dari latar belakang tersebut di atas, maka akan dibahas masalah pokok yaitu Bagaimana sesungguhnya substansi dari Tarakat Dan
untuk memudahkan pembahasan, maka masalah pokok itu diuraikan menjadi
beberapa sub masalah untuk bisa mengantar kita memahami Tarekatdiantaranya:
  1. Pengertian Tarekat
  2. Sejarahnya Lahirnya Tarekat
  3. Istilah Tarekat
  4. Macam-Macam Tarekat
  5. Tata Cara Pelaksanaan Tarekat
  6. Revalansi Sosial Ajaran Tarekat
  7. Tasawuf Dengan Tarekat
  8. Hubungan Trekat dengan MPI
  9. Tujuan Tarekat




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.            Pengertian Tarekat
Secara harfiah, tariqah berarti jalan, mempunyai arti yang sama dengan syari’ah. Banyak kosa kata yang dapat diartikan dengan jalan, seperti sabil sirat, manhaj, atau minhaj, suluk, maslak,nusuk atau mansak.jadi tarekat yang berasal dari bahasa arab yaitu “tariqah” memiliki banyak pengertian satu dianttra seperti dikemukaan diatas, yakni jalan, sedangkan dalam bahasa Bahasa Indonesia bermakna jalan menuju kebenaran.
Dalam memberikan pengertian atau denefisi tarikat ini ada beberapa macam pendapat antara lain:
-          W. J. S. Poerwodarminto,
memeberikan denefisi sebagai berikut : tarekat artinya jalan, jalan menuju kebesaran,(dalam tasawuf), ilmutarikot ilmu tasawuf, cara atau aturan hidup, sebagai persekutuan para penuntut ilmu tasawuf (Poerwodarminto 1020).
-          E. St Harahap, mengemukakan
tarikat ialah jalan menuju kebenaran, ilmu kebaikan agama, persaudaraan dalam kebaktian pada kerohanian. (E. St Harahap : 350).
-          J. Spenter Trimingham, mengemukakan
Tarikat ialah sesuatu method praktis untuk menuntun (membimbing)
seorang murid secara berencana dengan jalan fikiran, perasaan, dan
tindakan. Terkendali terus-menerus kepada suatu rangkaian dari tingkatan-
tingkatan (Maqomat) untuk dapet merasakan hakikat yang
sebenarnya. (J. Spenter Trimingham 3-4).

-          Asy-Syekh Muhammad Amin Al- Kurdi, mengemukakan
ﺍﻟﻃﺮﻴﻘﺔﻫﻲﺍﻟﻌﻣﻞﺑﺎﻟﺷﺭﻴﻌﺔﻮﺍﻻﺨﺫﺑﻌﺯﺍﺌﻤﻬﺎﻮﺍﻟﺑﻌﺪﻋﻦﺍﻟﮅﺴﺎﻫﻝﻔﻴﻤﺎﻻ
ﻴﻧﺑﻐﻰﺍﻟﮅﺴﺎﻫﻞﻔﻴﻪ
“Tarekat adalah  mengamalkan syari’ah, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap memepermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah”.

ﺍﻟﻄﺮﻴﻘﺔﻫﻰﺍﺟﺘﻨﺎﺐﺍﻟﻤﻨﻬﻴﺎﺖﻈﺎﻫﺮﺍﻭﺑﺎﻄﻨﺎﻮﺍﻤﺗﺛﺎﻞﺍﻷﻭﺍﻣﺮﺍﻹﻟﻫﻴﺔﺑﻗﺪ
ﺭﺍﻟﻄﺎﻗﺔ
“Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah tuhan sesuai dengan kesanggupan, baik larangan dan perintah yang nyata maupun tidak batin”.
-          Hamkam mengatakan,
Maka diantara makhluk dan khalik itu ada perjalanan hidup yang harus kita tempu. Inilah yang kita katakana Thariqat. (Hamkam :104).
-          Syekh Al-jurjani
Mengatakan tarikat adalah atau tingkah laku tertentu bagi orang-orang yang berjalan (beribadat) kepada allah melalui pos
manazil dan meningkatkan ketingkat yang lebih tinggi yaitu stasion-stasion (maqomat) (Al-Jurjani : 123).
-          Abbas Husayn Basri
Tarekat adalah suatu jalan yang ditempuh berdasarkan syaria’at Allah dan peraturannya, mengikuti perintah rasul saw. Yang dating dengan segala petunjuk dan cahaya kebenaran.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa tarekat sebagai suatu rumusan doktrin, metode dan teknikserta syarat tertentu yang dipercaya bisa membawa seseorang pada pencapaian tujuan tasawuf . Kata tarekat dalam al-Qur’an terdapat beberapa surat, yaitu :
  1. (Q.S. Taha Ayat 104)
ﻧﺤﻥﺃﻋﻟﻡﺑﻣﺎﯿﻗﻮﻟﻮﻥﺇﺬﯿﻗﻮﻝﺃﻣﺜﻟﻬﻡﻄﺮﯿﻗﺔﺇﻥﻟﺑﺜﺗﻡﺇﻻﯿﻮﻣﺎ۝
“Kami telah mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata kepada orang yang paling lurus jalannya diantara mereka : kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja”.
  1. (QS. Al- Ahqaf Ayat 30)
 ﻗﺎﻟﻮﯿﻗﻮﻣﻨﺎﺇﻨﺎﺴﻣﻌﻨﺎﮎﮅﺑﺎﺃﻨﺯﻞﻣﻦۢﺑﻌﺪﻣﻭﺴﻰﻣﺼﺪﻘﺎﻟﻣﺎﺑﻴﻦﻴﺪﻴﻪﻴﻬﺪﻯﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺤﻖﻭﺇﻟﻰﻄﺮﻴﻗﻤﺴﺘﻗﻴﻡ۝
“Mereka berkata : hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”.



  1. (QS. Al- Mu’minun Ayat 17)
ﻮﻟﺪﺧﻟﻗﻧﺎﻔﻮﻗﮐﻡﺴﺑﻊﻄﺭﺍﮨٕٕٕﻖﻭﻣﺎﮐﻧﺎﻋﻥﺍﻟﺨﻟﻖﻏﻔﻟﻴﻥ۝
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit) dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (kami)”.
2.2.       Sejarah Lahirnya Tarikat
Lahirnya tarikat tidak terlepas dari keberadaan tasawuf secara umum, terutama peralihan tasawuf yang bersifat personal kepada tarekat sebagai suatu organosasi, yang merupakan perkembangan, penglaman serta perluasan serta perluasan ajaran
tasawuf.
Beraneka ragam asal kata tasawwuf. Salah satu yang dipandang paing dekat adalah kata suf yang mengandung arti wol kasar. Pengertian ini dihubungkan dengan seorang yang ingin memasuki tasawuf mesti mengganti pakain mewah dengan kain wol. Suf digunakan sebagai kata yang memiliki makna simbolis, kesederhanaan, ketidakterikatan, kepada dunia materi, dan selanjutnya melalui itu kedekatan kepada Allah swt.
Menurut termilogi, tasawuf merupakamn upaya pendekatan diri sedekat mungkin kepada Allah, dengan menggunakan intuisi dan daya emosional spiritual yang dimiliki manusia sehingga benar-benarmerasa berada di hadirat-Nya. Upaya pencapaian ini dilakukan melalui tahapan-tahapan panjang yang disebut maqamat dan ahwal.
Dalam korteks Trimingham berpendapat bahwa perkembangan tasawuf menjadi tarekat mengalami proses panjang yang dapat membagi kedalam tiga tahapan yaitu :
Tahap pertama (khanaqah). Abad kencana mistisisme. Ruru dan majelis muridnya yang sering kali berpindah-pindah tempat, mempunyai aturan yang minimum untuk menempuh kehidupan biasa.
Tahap kedua (tariqah).abad ke tiga belas zaman seljud. Priode formatif
1100-1400 M. transmisi doktrin aturan dan metode. Silsilah tarekah yang berasal dari seorang yang tercerahkan. Gerakan borjuis. Menyesuaikan dan menjanjikan semangat mestikal dalam sufisme yang terorganisasi pada standar tradisi dan legalisme.
Tahap ketiga (ta’rifah).abad kelima belas pada zaman pembentukan kemaharajaan ottoman. Trasnmisi baiat bersama-sama doktrin dan aturan. Sufisme menjadi suatu gerakan yang popular. Fondasi-fondasi yang terbentuk dalam aliran-aliran tarekah. 
Beberapa karakteristik yang dapat mewarnai masing-masing tahapan perkembangan diatas. Karakteristik-karakteristik yang terpenting untuk tahapan perkembangan yang pertama adalah sebagai berikut ;
-          Perumusan ajaran masih bersifat individual.
-          Pengikut menjalani kehidupan normal.
-          Atauran-aturan masih sederhana.
-          Aristokratik.
-          Metode utama adalah kontemplasi individual.
Karakteristik-karakteristik terpenting untuk tahap perkembangan yang kedua adalah :
-          Mulai munculnya transmisi doktrin, metode dan atauran secara sinambung, dengan menempatkan satu tokoh sebagai central figure.
-          Popularisasi
-          Standarisasi
-          Munculnya metode-metode komunal yang standarisasi.
Karakteristik-karakteristik terpenting untuk tahap perkembangan yang ketiga adalah :
-          Popularisasi berlanjut.
-          Pemecahnya mazhab kedalam cabang-cabang yang banyak.
-          Bay’at komunal.
-          Kultus individual.
Seiring dengan berjalanya waktu komunitas ini menjadi oganisasi sufi, organisasi sufi ini secara intelektual bertujuan melestarikan dan ajaran syekh tertentu yang bias any adalah pendiraian dari tarekat tersebut. Secara eksternal, organisasi ini memerankan kegiatan menyebarluaskan ajaran tersebut ketengah masyarakat luas. Begitulah tasawuf yang lebih bernuansa teoritis bermetamorfosa menjadi tarekat yang tidak saja teoritis tetapi juga berbentuk organisasi formal.



2.3.       Istilah Dalam Tarekat
Ada beberapa istilah tarekat antara lain adalah:
a.      Syariat 
Kata “Sayriat” berarti perjalanan atau peraturan, maksudnya para ahli tarekat perpendapat berupa amaln-amalan lahir.
b.      Hakikat
ata “hakikat” berarti puncak atau kesudahan sesuatu atau asal sesuatu. Arti lain adalah sebagai kebalikan dari sesuatu yang tidak sebenarnya (arti kiasan). Namun didalam istilah tarekat berarti sebagai kebalikan syariat yakni yang mengangkut batin.
c.       Ma’rifa
Ma’rifat berarti pengetahuan atau pengalaman. Menurut istilah “ma’firat” adalah pengetahuan dalam mengerjakan syariat dan hakikat. Para ahli tarekat berpendapat bahwa ma’rifat adalah sifat sufi yang dapat bertingkat-tingkat.
d.      Tarekat
Kata ‘tarekata’ berarti jalan. Menurut istilah tarekat adalah jalan atau cara yang ditempuh menuju keridhaan allah.
e.      Suluk
Kata “suluk” berart menempuh perjalanan. Kata suluk berasal dari kata “salaka”. Dalam istilah tasawuf , suluk adalah ikhtiar atau usaha dalam
menempuh jalan untuk mencapai tujuan tarekat. Orang yang menjalankan ikhtiar tesebut dinamakan “salik”.

f.        Manazil
Manazil artinya tempat-tempat perhatian yang dilalui salik yang melaksanakan “suluk”.
-          Masyahid
-          Maqamat
-          Kasbiyah
g.      Zawiyah
Zawiyah adalah merupakan suatu raung tempat mendidik calon-calon sufi. Disebut juga tempat latihan tarekat yang dilengkapi dengan mihrab untuk salat. Wujud zawiyah besa adalah asrima atau madrasah.
h.      Illa zikr naïf asbat
Kalimat “la ilaha ilallah” mengandung dua kata peri-ada-an. Pertama kata “La” dan kedua kata “Illa”. Dan dua kata pula yang menetapkan yaitu “ilaha” dan “Allah”. Dalam hal tersebut diatas ahli tarekat member tiga tingkatan dalam pengerian, yaitu :
-            Tiada Tuhan melainkan Allah
-            Tiada ma’bud melaikan Allah.
-            Tiada maujud melainkan Allah
i.        As-sukr
As-sukr maksudnya sebagai salah satu sikap dalam ibadah dan khalwat. Sehingga orang iu tidak sadar lagi akan dirinya.
Al-fana merupakan suatu tingkatan/golongan salik, yang menurut mereka dapat terlihat diwaktu ia berpengaruh oleh perasaanya waktu menjalankan ibadah, maksud lain ialah lupa segala sesuatu ketika beribadah keculi yang disembahnya.


j.        Uslah
Usalah adalah salah satu praktek suluk dengan mengasingkan diri khalayak ramai yang berbuat maksiat.
Khalwat, khalwat sebagai salah satu rangkaian dalam suluk dengan jalan
menyendiri di tempat yang sunyi atau bertapa.
k.       Kasyaf
Kasyaf artinya terbukanya dinding antara hamba dengan tuhan dalam tarekat. Empat dinding pembatas antara khalik dengan makhluk
menurut ahli tarekat yaitu :
-        Najis dan hadas
   -    Haram dan makhruh
   -    Akhlak yang tercela
   -    Kelalaiam terhadap Tuhan karena pengaruh dunia
l.        Silsilah
Silsilah adalah hubungan guru-guru tarekat yang sambung bersambung dari bawah keatas yang perlu diketahui oleh pengikut-pengikut tarekat.
Khirqah adalah, semacam ijazah yang diberikan murid setelah mencapai suatu tahap dalam pengetahuan. Lebih lanjut dalam pemberian “khirqah”
dibarengi dengan “wasiat” yaitu amanah atau pesan-pesan penting dan khusus dari guru kepada muridnya.
m.    Wali
Wali adalah, seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian yang tinggi setelah melalui suluk. Dia mempunyai kelebihan-kelebihan sebagai bukti-bukti dari kewaliannya.
Keramat adalah, keistimewaan yang dimiliki seorang wali tersebut.

2.4.       Macam-Macam Tarekat
1.             Naqsabandiyah
Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad bin Baha’ al-Din Uwaisi al-Bukhari al-Naqsabandi yang hidup pada tahun 717-791 H. dia dikenal dengan keahliannya melukiskan kehidupan yang ghaib dan menyelam dalam lautan dan kesatuan dan kefanaan.
Tarekat Naqsabandiyah mempunyai kedudukan yang istimewah karenal berasal dari Abu Bakar. Tarekat ini mengajarkan tentang adap dan dzikir, tawasul dalam tarekat, adap suluk, tentang salik dan maqam-Nya, Juga tentang ribath.
2.        Qadiriyah
Tarekat Qadriyah didirikan oleh “Abd al-Qadir al-Jalani lahir (1077-1166M). dia terkenal dengan kekuatan ma’rifatnya. Dasar-dasar pokoknya ialah tinggi cita-citanya, menjaga kehormatan, baik pelayanan, kekuatan pendirian , dan membesarkan nikmat tuhan.
Menurut  tarekat Qadiriyah siapa yang tinggi cita-citanya, naiklah martabatnya. Siapa yang memelihara kehormatannya. Siapa yang baik khidmatnya, kekallah ia dalam petunjuk. Siapa yang memebesarkan allah (karena ni’matnya) dia akan mendapatkan tambahan nikmat dari-Nya. Diantara amalan-amalan tarekat Qadiriyah, dzikir adalah yang paling penting. Anatara satu alairan dengan aliran yang lain.


3.        Bektasyi
Tarekat bektasyi diperkirakan telah ada di Mesir sejak abad ke-17 dan ke-
18 M. tarekat ini berhimpun para wali asal Turki Utsmani ke Mesir. Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada masa khedive ismail.
Pada masa Sultan Mahmud II tarekat bektasyi dibubarkan, tetapi di Mesir justru mendapatkan perlindungan dan mengalami perkembangan karena penguasa Mesir pada waktu itu berasal dari kalangan tentara Turki pengikut tarekat Bektasyi.
4.      Syadziliyah
  Tarekat Syadziliyah adalah Abu al-Hasan al-Sadzli yang terkenal dengan wirid dan kekuatan ilmunya. Menurut tarekat Sadziliyah, takwa bisa dicapai dengan tindakan wara’ dan istiqomah. Seorang bisa berpaling dari keduniaan dengan jalan mengambil I’tibar dan bertawakal. Seorang bisa mencapai sikap ridha kepada allah dengan qana’ah pasrah pada waktu senang dan susah.
5.         Rira’iyah
Pendiri tarekat Rifa’iyah adalah Ahmad bin Ali bin Abbas al-Rifa’i.dia meninggal di Umm Abidah pada tanggal 22 Jumadil Awal Tahun 578 H.
bertepatan pada tanggal 23 September tahun 1106 M. tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia meninggal pada bulan November tahun 1118 M. di Qaryah Hasan.
Para penganut tarekat ini terkenal dengan keramatan dan ketinggian fatwanya. Di Aceh, tarekat Rifa’iyah terkenal dengan tradisi tabuhan Rafa’ kemudian disumatara ada permainan debus. Tarekat ini mamapumempunyai tiga prinsip yaitu, tidak meminta sesuatu , tidak menolak sesuatu, dan tidak menunggu sesuatu.
Menurut Sayyid Abdul al Faidl al-Manufi, ajaran tarekat Rifa’iyah mempunyuai tiga dasar yaitu :
ﻭﻘﺎﻞ : ﻃﺮﻴﻘﺗﻧﺎﻤﺑﻧﻴﺔﻋﻠﻰﺜﻼﺜﺔﺍﺴﺎﺴﺎﻻﻧﺴﺌﻝﻭﻻﻧﺭﺪﻭﻻﻧﻧﺘﻇﺭ
Artinya : tarekat kita dibina atas tiga dasar :
-          Tidak meminta sesuatu
-          Tidak menolak
-          Dan tidak menunggu
6.    Tsamaniyah
Tarekat Tsamaniyah didirikan oleh Muhammad Tsaman yang meninggal pada tahun 1720 M di Madinah. Para pengikut tarekat Tsamaniyah biasa berdzikir dengan suara keras dan melengking. Sewaktu melantunkan dzikir la ilaha illallah dalam intensitas yang semakin cepat maka yang terdengar dari mulut mereka hanya “hu” yang artinya “Dia Allah”. Tarekat Tsamaniyah mengajari para pengikutnya ntuk memperbanyak shlat dan dzikir, menolong orang miskin, tidak diperbudak kesenangan duniawi , menukar akal Basyariyah dengan akal rabbaniyah, dan beriman secara tulus hanya kepada allah.
7.        Khalwatiyah
Tarekat khalwatiyah didirikan oleh Zhahiruddin (w. 1397 M) dan Syaikh Qasim al-Khalwati di Khurasan. Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat Suhrawardi yang didirikan oleh ‘Abd Qadir Suhrawardi yang meninggal tahun 1167 M. amalan tarekat Kahalwatiyah mampu mentransformasi jiwa dari tingkat yang rendah dari tingkat yang lebih sempurna melalui tujuh tingkatan nafs.
8.    Al-Hadad
Tarekat al-Hadad didirikan oleh Sayyid ‘Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Hadad. Dia lahir di Tarim, sebuah kota yang terletak di Hadramaut, pada tanggal 5 Shafar tahun 1044 H. dia adalah pencipta ratib Hadad dan dianggap sebagai salah satu seorang wali kutub dad arifin dalm ilmu tasawuf. Dia banyak mengarang kitab dalam ilmu tasawuf diantaranya Nsaih al-Diniyah (Nasehat-nasehat agama), dan al-Muawannah Fi Suluk Thariq al-Akhirah (Pandangan mencapai hidup di akhirat).
Selain delapan tarekat yang disebutkan diatas tarekat mu’tabaruh yang kurang, lebih berjumlah 41, antara lain:
 Tarekat Akhbariyah, Badawiyah , Jastiyah, Bakriyah, ‘Ulumariyah, ‘Utsmaniyah, Aliyah, Abasiyah, Haddadiyah, Maghribiyah, Ghaibiyah, Bayumiyah, Anfasiyah, Sanusiayah, Dan masih banyak lagi.
2.5.       Tata Cara Pelaksanaan Tarekat
 Tatacara pelaksanaan tarekat anatara lain :
a.      Zikir, yaitu ingat yang terus menerus kepada allah dalam hati serta menyebutkan namanya dengan lisan.  Zikir ini berguna sabagai alat kontrol bagi hati, ucapan dan perbuatan agar tidak menyimpang ari garis yang sudah ditetapkan Allah.
b.      Ratib yaitu mengucapa lafal la ila ha illa Allah dengan gaya gerak dan irama tertentu.
c.       Muzik, yaitu dalam membacakanwirid-wirid dan syair-syair tertentu diiringi dengan bunyi-bunyian (instrumentalia) seperti memukul rebana.
d.      Menari, yaitu gerak yang dilakukan mengiringi wiri-wirid dan bacaan-bacaan tertentu.
Bernafas, yaitu mengatur cara bernafas pada waktu melakukan dzikir yang tertentu
1.      Berbuat dan mengisi waktu sefisien mungkin dangan segala wirid dan doa guna pemantapan serta kekhusukan dalam mencapai maqomat (stasion) yang tinggi.
2.      Mengekang hawa nafsu agar terhindar dari kesalahan yang dapat
menodai amal.
2.6.       Pengaruh Tarekat di Dunia Islam
Tarekat mempengaruhi dunia islam mulai abad ke-13. Kedudukan tarekat itu sama dengan partai politik. Penyongkong tarekat Bektashi, umpanya adalah tentara Turki. Oleh karena itu, ketika tarekat itu dibubarkan oleh Sultan Mahmud II, tentara
Turki yang disebut Jenissari menentangnya. Jadi tarekat itu tidak hanya bergerak dalam persoalan dunia yang mereka fikirkan.
Tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasi keseluruh pelosok negri, menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik, dan memeberi otonomi kedaerahan seluas-luasnya.
Disamping itu, tarekat pada umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak beribadah sajadan jangan mengikuti dunia ini karena anggapan, ajaran ini nampaknya menyelewengkan umat Islam dari jalan yang harus ditempuhnya. Dengan demikian sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan dating, Qadha dan Qadar yang sejalan dengan paham Asy’ariyah.
Pada abad ke-19, timbul pemikiran yang sinis terhadap tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang yang menentang dan meninggalkan tarekat atau tasawuf. Pada mulanya Muhammad Abduh sebenarnya adalah pengikut tarekat yang patuh tetapi setelah bertemu Jamaluddin Al-Afghani, ia berubah pendirian dengan meninggalkan tarekatnya dengan mementingkan dunia ini, di samping akhirat.
Akan tetapi pada akhir-akhir ini, perhatian pada tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materialism. Orang-orang barat meliahat bahwa materialisme itu memerlukan sesuatu yang besifat rohani, yang bersifat immateri, sehingga bnayk orang yang kembali memperhatikan tasawuf.

2.7.            Hubungan Tasawuf dengan Tarekat
Sebagaimana telah diterangkan bahwa tarekat itu pada mulanya berarti sebagai tatacara dalam rangka mendekatkan diri kepada alla dan digunakan untuk

sekelompok yang menjadi pengikut bagi oaring Syekh. Kelompok ini kemudian dalam perkembangananya menjadi lembaga-lembaga yang mengumpul dan mengkat dengan aturan-atauran yang telah ditentukan oleh Syekh.
Lembaga terikat ini merupakan kelanjutan dari pada usaha pengikut sufi-sufi yang terdahulu. Perubahan bentuk dari tasawuf kepada tarekat sebagai lembaga dapat dilihat dari perorangan, tetapi akhirnya berkembang menjadi tarekat, sebagai lembanga tarekat yang lengkap dengan unsur-unsurnya.

Dalam ilmu tasawuf, istilah yang terkait itu tidak saja ditujukan kepada aturan yang digunakan oleh seorang Syekh terikat dan bikan pula tergap kelompok yang menjadi pengikut yang salah seorang Syek terikat, tetapi meliputisegala aspek ajarann-ajaran yang ada dalam agama islam seperti, shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.yang semuanya adalah merupakan jalan atau car yang mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sedangkan dalam tarekat yang sudah melembaga bahwa tarekat itu adalah yang mencakup semua aspek ajaran islam seperti shalat, zakat, puasa, jihad, haji dan lain-
lain. Pengalaman seorang Syekh, tetepi itu ierikat dalam tuntunana dan bimbingan seorang Syekh.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Than dengan melalui pemyucian rohani dan
memperbanyak ibadah. Dengan demikian dapatlah kita katakana, bahwa tasawuf itu adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri itu kepada tuhan.

Dengan demikian jelaslah hubungan antara tasawuf dalam tarekat, yaitu tarekat itu bermula dari tasawuf dan berkembang dengan berbagai macam faham dan alirang yang tergambar dalam adanya Thuruqush Sufiyah (aliran-aliran tarekat) sehingga belakangan ini seseorang yang hendah berkecimbung dalam kehidupan tsawuf pada umumnya adalah melalui aliran tarekat ang sudah ada.   




2.8.            Kekeluargaan Tarekat
Pada zaman kekeyaan Baghdad banyak oaring islam yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dari pada keagamaan, maka timbul ulama-ulama yang ingin memperbaiki kerusakan jasmani dan rohani dengan mengembalikanumat kepada kehidupan yang sebenarnya, seperti pernah terjadi pada masa nabi.

 Dengan demikian terjadilah tarekat semacam kumpulan amal, yang dipimpin oleh seorang guru, yang dinamakan mursyid, syekh tarekat wakil yang biasa dinamakan khalifah, Beberapa banyak pengikut yang dinamakan murid dengan gedungnya untuk dapat melakukanlatihan atau ibadah dan lain-lain yang bernama Ribath atau zawiyah. Kitab-kitab yang khusus dipergunakan untuk keperluan itu, baik mengenai ilmu fiqih, maupun ilmu tasawuf, yang diberi corak suatu tarekat
khusus, mempunyai dzikir atau doa serta wirid yang khusus pula. Perjanjian-
perjanjian tertentu dari murid terhadap gurunya disebut dengan bai’at dan lain-lain. Hingga tarekat merupakan sesuatu kekeluargaan, ukhuawah yang berada satu sama lain.

2.9.            Hubungan Tarekat dengan MPI
Tarekat sebagai petunjuk untuk melakukan sesuatu dalam beribadah dalam ajaran yang dapat dicontohkan seperti shalat, zakat, puasa, jihad, dan lain-lain. Serta pengalaman seorang guru (Syekh) dan murid tetapi pada umumnya itu terikat dengan tuntutan dan bimbingan seoarang  Syekh.
Dengan demikian MPI sangatlah memerlukan tarekat dalam kehidupan sehari-hari, karena guru didalam masalah ini sangatlah berperan penting bagi seorang mahasiswa, dalam pembelaharan ilmu tasawuf dan tarekat. Kalau

seseorang tidak mendekatkan diri kepada Allah maka merugilah mereka, tetapi apabi kita dapat menjalankan perintah dan dapat menjauhi larangannya insya Allah hidup kita akan terasa tenang, tentram, serta  Mpi juga akan menjadi seorang pemimpin menurut syari’at islam.
2.10.        Tujuan Tarekat
      Secara umum, tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin kepada allah. Akan tetapi apabila diperhatikan karakteristik bertasawuf secara umum, terlihat adanya tiga sasaran yaitu:
1.      Bertujuan untuk pembinaan aspek moral. Aspek ini meliputi wujud kestabilan jiwa yang berkeseimbanagan penguasaan dan pengendalian hawa nafsu yang konsisten.
2.      Untuk ma’rifatullah melalui penyikapan langsung atau metode al-kasyf al-jihab. Tasawuf ini sudah bersifat teoritis dengan seperangkat ketentuan khusus yang dinformasikan secara sistematis dan analisis.
3.      Membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan dari allah secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan antara tuhan dan makhluknya, terutama hubungan manusia dengan Tuhan, dan apa arti dekat dengan tuhan.







BAB III
PENUTUP

3.1.            Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa tarekat merupakan usaha pendekatan diri kepada Allah SWT dengan sekat mungkin melalui penyesuain ruhani, dan memperbanyak dalam beribadah. Ajaran-ajaran tekat hurus wajib ditempuh untuk memmperbanyak akhlak yang baik, menjaga perkataan, serta perbuatan yang kiata lantunkan terhadap guru (seorang dosen), teman sahabat atau keluarga. Karena kita adalah seorang pemimpin yang baik dan bijaksana nantinya. Oleh karena itu diharapkan kita dapat untuk merubah prlaku yang manusia kepada yang lebih baik atau akhlakul karimah, dan dapat menjalankan dengan sebaik-baiknya didalam kehidupan masyarakat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar